Faktor-Faktor Pembatas Plankton
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Planktonologi
Dosen Pengampu :
Dr.Any Suryanti S.Pi, M.Si
OLEH
Dwi Cahya Okataviyani
160254242010
MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Plankton adalah jasad
atau organisme yang hidup melayang dalam air, tidak bergerak atau bergerak
sedikit dan selalu mengikuti pergerakan/ arus air. Plankton yang tergolong
fitoplankton adalah jenis plankton yang umumnya beraktifitas pada pagi hingga
siang hari. Hal ini dikarenakan fitoplankton merupakan jenis tumbuhan
mikroskopis yang dapat berfotosintesis. Fitoplankton umumnya terdiri dari
diatome dan dinoflagellata. (TAHRIN,
2009).
Salah satu masalah
yang sampai saat ini masih merupakan faktor penyebab utama dari kegagalan usaha
budidaya perikanan adalah adanya keterbatasan benih. Benih biasanya tidak
sesuai dengan periode penebaran dan pemanenan, selain itu jumlahnya tidak
mencukupi dan harganya relatif mahal. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka
perlu dibangun balai benih ikan agar dapat mensuplay benih ikan seperti yang
diinginkan. Kurangnya benih yang
diperlukan untuk usaha budidaya dapat disebabkan tingginya kematian benih pada
tingkat fase larva, terutama pada saat larva kehabisan kuning telur. Adapun
salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah pemberian makanan
alami.
Zooplankton merupakan
salah satu makanan alami terbaik bagi anak ikan. Namun demikian tidak samua
zooplankton bisa dijadikan makanan awal yang baik. Adapun makanan alami yang
akan digunakan haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) tidak
mengandung racun, 2) mempunyai ukuran yang lebih kecil dari bukaan mulut ikan,
3) mempunyai nilai gizi yang tinggi dan dapat dicerna oleh ikan, 4)terapung dan
bergerak lambat sehingga mudah diperoleh dan 5) harganya murah dan
disenangi oleh ikan. Makanan alami yang dijadikan makanan hidup bagi anak ikan yang
diambil langsung dari perairan umum kurang baik diberikan secara langsung pada
anak ikan. Hal ini disebabkan masih banyaknya jenis parasit yang ikut
tertangkap. Untuk itu sebaiknya dilakukan kultur tanggal lebih dahulu, sehingga
makanan alami yang dikehendaki dapat tepat dalam jumlah dan waktu.
Untuk mendapatkan
benih yang baik dan bermutu tinggi setiap pembenihan sebaiknya mempelajari
sifat dan tingkah laku ikan serta makanan alami yang digunakan untuk menjamin
kelangsungan hidupnya. Untuk menumbuhkan makanan alami tersebut biasanya
dilakukan dengan pemberian pupuk yang murah di dapatkan dan efesien. Salah satu
pupuk yang bisa digunakan adalah pupuk kandang. Yang dimaksud dengan pupuk
kandang adalah kotoran yang berasal dari hewan ternak. Selain pupuk kandang dapat pula ditambahkan
pupuk organik cair. Alasan menggunakan pupuk organik cair karena dapat membantu
menjaga kualitas air agar selalu dalam kondisi baik selain itu mengandung
minera-mineral, protein dan unsure hara yang dapat menambah nutrisi untuk
perkembangbiakan plankton
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa
Pengertian Plankton ?
2.
Apa Pengertian Faktor Pembatas ?
3.
Apa Asas factor pembatas ?
4.
Apa Faktor-Faktor
Pembatas Plankton ?
1.3 Tujuan Masalah
1.
Mendekripsikan Apa Pengertian Plankton
2.
Mendekripsikan Pengertian Faktor Pembatas
3.
Mendekripsikan Asas factor pembatas
4.
Mendekripsikan
Faktor-Faktor Pembatas Plankton
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Plankton
Plankton berasal dari bahasa yunani yaitu planktos berarti pengembara
atau penghanyut. Istilah plankton
pertama kali diterapkan untukorganisme di laut oleh Victor Hensen direktur
Ekspedisi Jerman pada tahun1887 yang dikenal dengan Plankton Expedition yang khusus dibiayai
untuk menentukan dan membuat sitematika organisme laut, dan kemudian
disempurnakan oleh Haeckel pada tahun 1990 (Charton dan Tietjin,1989). Plankton adalah organisme baik
tumbuhan maupun hewan yang umumnya berukuran relatifkecil (mikro), hidup
melayang-layang di air, tidak mempunyai daya gerak walaupun ada, daya gerak
relatif lemah sehingga distribusinya sangat dipengaruhi oleh daya gerak air,
seperti arus dan lainnya (Nyabakken,1992). Berdasarkan daur hidupnya plankton
di bagi menjadi tigakelompok yaitu holoplankton, meroplankton dan tikoplankton.
Holoplankton yaitu organisme akuatik yang seluruh daur
hidupnya bersifat planktonik. Meroplankton ialah organisme akuatik yang seluruh
daur hidupnya bersifat planktonik.Sedangkan tikoplankton adalah bukan merupakan
plankton sejati (Sachlan, 1972). Raynold (1990) dalam Kholik (1997) menyatakan
bahwa plankton dapat dijumpai baikdiperairan tawar, payau dan laut. Berdasarkan
ukurannya, plankton dapat dibedakan megaplankton (20-200 cm), makroplankton
(antara 2-20cm), mesoplankton (0,2m-20 cm), mikroplankton (20 200 μm), nanoplankton (2-200), pikoplanton
(0,2 2 μm ), femkoplankton (< 0,2 μm
).
Fitoplankton Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah
tumbuhan yang hidupnyamengapung atau melayang di periran yang menempati bagian atas peraian (zona fotik)laut
terbuka dan lingkungan pantai . Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat
dilihat oleh mata telanjang.
Umumnya fitoplankton berukuran 2 ? 200 μm (1 μm = 0,001mm) (Sunarto, 2008). Fitoplankton terdiri dari divisi
chrysophyta (diatom), chlorophyta dan cyanophyta.Biasanya chlorophyta dan
cyanophyta mudah ditemukan pada
komunitas plankton perairan tawar sedangkan chrysophyta dapat ditemukan
diperairan tawar dan asin (James, 1990). Fitoplankton yang hidup di air tawar
terdiri dari tujuh kelompok besar filum, yaitu: Cyanophyta (alga biru),
Cryptophyta, Chlorophyta (alga
hijau), Chrysophyta, Pyrrhophyta (dinoflagellates), Raphydophyta, dan
Euglenophyta. Setiap jenis fitoplankton
yang berbeda dalam kelompok filum tersebutmempunyai respon yang
berbeda-beda terhadap kondisi perairan, sehingga komposisi jenis fitoplankton bervariasi dari
satu tempat ke tempat lain (Welch, 1952). Plankton air tawar dibedakan menjadilimnoplankton dan
rheoplankton.Limnoplankton adalah plankton yang hidup di perairan tergenang, sedangkan rheoplankton
adalah plankton yang hidup di perairan mengalir.Keberadaan plankton di perairan
mengalir dipengaruhi oleh
lingkungan hidup plankton yang seringkali komposisinya berubah yang berkaitan
dengan pergerakan air, kekeruhan,
suhu, dan nutrien (Hynes, 1972).
2.2 Pengertian Faktor Pembatas
Faktor
pembatas adalah suatu yang dapat menurunkan tingkat jumlah dan perkembangan
suatu ekosistem . faktor lingkungan menjadi faktor pembatas, baik itu abiotik
maupun biotik. Abiotik diantaranya adalah suhu,kecepatan,arus dan ph.
Pengertian tentang faktor lingkungan sebagai faktor pembatas kemudian dikenal
sebagai Hukum faktor pembatas, yang dikemukakan oleh F.F Blackman, yang
menyatakan: jika semua proses kebutuhan tumbuhan tergantung pada sejumlah
faktor yang berbeda-beda, maka laju kecepatan suatu proses pada suatu waktu
akan ditentukan oleh faktor yang pembatas pada suatu saat.
2.3 Asas factor pembatas
1.
Hukum Minimum
2.
Hukum Toleransi
3.
Konsep Gabungan Faktor
Pembatas
4.
Syarat Sebagai Faktor
Pengatur
5.
Faktor Fisik Sebagai
Faktor
6.
Pembatas
7.
Indikator Ekologi
2.4 Faktor-Faktor Pembatas Plankton
Faktor Yang Menyebabkab Terjadinya Pembatas Plankton
Sebagai Berikut :
a.
Faktor fisika
:
1.
cahaya
Cahaya
matahari mempunyai dua fungsi yang saling berlawanan, di satu pihak radiasi
cahaya matahari menguntungkan karena sebagai sumber energi bagi proses
fotosintesa. Dilain pihak, radiasi cahaya matahari merugikan karena cahaya
matahari langsung akan merusak atau membunuh protoplasma. Dari segi ekologi,
bagi kehidupan organisme yang penting radiasi adalah kualitas sinar (panjang
gelombang dan warna) dan intensitas cahaya (lama penyinaran), karena laju
fotosintesa akan bervariasi sesuai dengan perbedaan panjang gelombang yang ada.
Sinar merah dan biru disaring oleh komponen air dan menghasilkan sinar hijau
yang sukar sekali diabsorbsi oleh klorofil. Intensitas cahaya matahari berpengaruh langsung terhadap laju
fotosintesis. Penurunan tingkat kejenuhan sinar akan diikuti dengan penurunan
intensitas cahaya.
2. Kekeruhan, warna, dan bau
Kekeruhan
disebabkan oleh partikel-partikel tanah, partikel bahan organik dan biota renik
maka kecerahan air menjadi rendah .Warna air ditentukan warna senyawa atau
bahan terlarut dan melayang di dalam air misal warna coklat dan kekeruhan
tinggi,kecerahan rendah maka banyak terdapat partikel tanah . Warna hijau
sampai hijau tua atau hijau abu-abu maka banyak mengandung plankton. Bau
disebabkan oleh bau dari senyawa atau materi dan gas-gas. Misal air tambak yang
mengandung bahan organik spt sisa pakan, pupuk organik dsb akan berbau busuk
dari gas sulfida, gas resin serta amonia. Kekurangan partikel tanah dapat
mengakibatkan insang udang terselaputi partikel tanah shgga udang dapat mati
lemas atau anoxia, nafsu makan udang berkurang sehingga laju pertumbuhan
terhambat. Kadar partikel tanah 80mg/l atau lebih kurang mendukung dan kadar
sampai 800mg/l tidak dignkan untuk budi daya udang. Air hijau dan kecerahan
sangat rendah kurang 40mg/l terjadi blooming plankton maka kehidupan udang
terganggu.
3.
Kecerahan
Meurut
Parsons dkk, (1984) transmisi cahaya (kecerahan perairan) adalah suatu kondisi
yang menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman
tertentu. Pada perairan alami transmisi cahaya sangat penting karena berkaitan
dengan aktivitas fotosintesis fitoplankton. Kecerahan berkaitan dengan cahaya
yang dapat masuk ke perairan tersebut. Bagi biota air, cahaya mempunyai
pengaruh terbesar secara tidak langsung, yakni sebagai sumber energi untuk
proses fotosintesis tumbuhtumbuhan yang menjadi tumpuan hidup, sebagai sumber
makanan (Romimohtarto, 2004). Menurut Barus (2004) faktor cahaya matahari yang
masuk ke dalam air akan mempengaruhi sifat-sifat optis dari air. Sebagian cahaya
matahari tersebut akan diabsorbsi dan sebagian lagi akan dipantulkan keluar
dari permukaan air. Dengan bertambahnya lapisan air intensitas cahaya tersebut
akan mengalami perubahan yang signifikan baik secara kualitatif maupun
kuantitatif. Cahaya gelombang pendek merupakan yang paling kuat mengalami
pembiasan yang mengakibatkan kolam air yang jernih akan terlihat berwarna biru
dari permukaan. Kedalaman penetrasi cahaya akan berbeda pada setiap ekosistem
air yang berbeda.
4.
Arus dan tekanan air
Arus
air tidak hanya mempengaruhi konsentrasi gas dalam air, tetapi juga secara
langsung sebagai faktor pembatas. Misal perbedaan organisme sungai dan danau
sering disebabkan oleh arus yang deras pada sungai. Tumbuhan dan binatang di
sungai harus mampu menyesuaikan diri terhadap arus baik secara morfologis dan
fisiologis. Di laut, tekanan air akan bertambah 1 atmosfer pada setiap
penurunan kedalaman 10 meter. Pada bagian laut yang paling dalam, tekanan ini
dapat mencapai 1000 atmosfer. Secara langsung, reaksi enzimatik yang berperan
dalam proses fotosintesis dikendalikan oleh suhu. Tingkat percepatan proses
dalam sel akan meningkat sejalan dengan meningkatnya suhu sampai mencapai batas
tertentu antara selang 25 – 40 ̊C dan peningkatan suhu terbesar 10 ̊C (misalnya dari 10 ̊C ke 20 ̊C)
akan meningkatkan laju fotosintesis maksimal menjadi dua kali lipat (Nontji,
1984) Pengaruh suhu secara tidak langsung pada kehidupan di laut adalah suhu
mempengaruhi daya larut gas karbondioksida (CO2) dalam air laut. Daya larut CO2
dalam air laut berkurang bila suhu air laut naik dan akan bertambah dengan
adanya penurunan suhu. Suhu juga menentukan struktur hidrologis perairan dalam
hal kerapatan air (water density). Semakin dalam perairan, suhu akan
semakin rendah dan kerapatan air meningkat sehingga menyebabkan laju
penenggelaman fitoplankton berkurang Raymont (1981) dalam Wati (2004).
5.
Ph
Organisme
air memiliki kemampuan yang berbeda dalam mentolerir Ph perairan. Nilai pH
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain aktivitas biologi, aktivitas
fotosintesis, suhu, kandungan oksigen, kation dan anion serta batas toleransi
organisme akuatik terhadap derajat keasaman bervariasi tergantung pada suhu
air, oksigen terlarut serta stadia organisme tersebut (Pescod, 1973). Menurut
Nybakken (1988) pH merupakan gambaran jumlah atau lebih tepatnya aktifitas
hidrogen dalam perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa asam atau
basa suatu perairan. Pada lingkungan laut pH relatif lebih stabil dan biasanya
berada dalam kisaran antara 7,5 – 8,4. Sedangkan Menurut Odum (1971) pH
perairan yang cocok untuk pertumbuhan organisme airberkisar antara 6 – 9.
6.
Nitrat
dan Fosfat
Senyawa-senyawa
nitrogen utama dalam air laut terdapat sebagai ion nitrat (NO3-), ion nitrit
(NO2-) dan ammonia (NH3), nitrogen oksida dan nitrogen dalam bentuk molekuler
(gas) bebas. Keberadaan nitrogen di perairan dapat berbentuk persenyawaan
dengan bahan lain maupun dalam bentuk bebas sebagai gas nitrogen terlarut.
Nitrogen sebagai salah satu unsur yang penting dalam zat hidup ditemukan dalam
bentuk senyawa organik baik pada organisme maupun bahan organik dan
terpartikulasi. Nitrat dapat menjadi faktor pembatas bagi produksi fitoplankton
bila konsentrasinya di bawah konsentrasi minimum. Konsentrasi minimum terdapat
pada lapisan permukaan dan maksimum pada lapisan pertengahan (sub-surface)
yaitu pada kedalaman beberapa ratus di bawah permukaan laut Sverdrup dkk,
(1942) diacu dalam Wati (2004). Senyawa nitrogen terlarut merupakan hasil
metabolisme organisme bahari dan hasil pembusukan. Nitrogen terdapat pula dalam
bentuk molekul-molekul protein dalam organisme yang telah mati kemudian
diuraikan menjadi bentukbentuk anorganik oleh serangkaian organisme pengurai,
terutama bakteri pembentuk nitrat. Nitrat yang terbentuk akan dimanfaatkan oleh
tumbuhan. Tumbuhan dan hewan yang mati akan terurai menjadi asam amino dan sisa
bahan organik. Selain melalui proses tersebut diatas, nitrat yang terlarut di
laut juga merupakan hasil suplai dari daratan melalui sungai (Odum, 1971).
b.
faktor Kimia
1.
Salinitas
Salinitas adalah jumlah berat semua garam (dalam gram)
yang terlarut dalam 1 Liter air, biasanya dalam satuan permil (‰). Menurut
Widigdo (2001) umumnya salinitas disebabkan oleh tujuh ion utama yaitu natrium
(Na), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), klorit (Cl), sulfat (SO4) dan
bikarbonat (HCO3). Salinitas di perairan penting untuk mempertahankan tekanan
osmotik antara tubuh organisme dengan perairan, karena itu salinitas dapat
mempengaruhi kelimpahan dan distribusi fitoplankton. Salinitas merupakan salah
satu parameter yang menentukan jenis-jenis fitoplankton yang terdapat dalam
suatu perairan, tergantung dari sifat fitoplankton tersebut apakah eurihaline
atau stenohaline. Meskipun salinitas mempengaruhi produktivitas fitoplankton,
namun umumnya peranannya tidak begitu besar karena salinitas bersama-sama
dengan suhu menentukan densitas air maka salinitas ikut pula mempengaruhi
pengembangan atau penenggelaman fitoplankton (Nontji, 2002). Salinitas
merupakan salah satu parameter yang menentukan jenis fitoplankton yang terdapat
dalam suatu perairan, tergantung dari sifat fitoplankton tersebut apakah
eurihalin atau stenohalin. Secara umum, salinitas permukaan laut di Indonesia
berkisar antara 32 -34 ‰ (Dahuri, 1996).
2.
DO (Dissolved Oxygen)
Oksigen terlarut merupakan salah satu unsur utama yang
penting yaitu sebagai regulator pada proses metabolisme tumbuhan dan hewan air
terutama untuk proses respirasi (Prasetyaningtyas dkk, 2012). Sedangkan Menurut
Arifin (2009), oksigen terlarut menggambarkan kandungan oksigen terlarut yang terdapat
dalam suatu perairan, sumber masukan oksigen terlarut di perairan dapat berasal
dari difusi udara dan fotosintesis.Kadar oksigen yang terlarut di perairan
alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air dan tekanan
atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan
musiman tergantung pada percampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa
air, aktifitas fotosintesis, respirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke
badan air. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat
mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai 0 (nol) atau anaerob
(Effendi, 2003).
3.
Nitrat dan Fosfat
Senyawa-senyawa nitrogen utama dalam air laut terdapat
sebagai ion nitrat (NO3-), ion nitrit (NO2-) dan ammonia (NH3), nitrogen oksida
dan nitrogen dalam bentuk molekuler (gas) bebas. Keberadaan nitrogen di
perairan dapat berbentuk persenyawaan dengan bahan lain maupun dalam bentuk
bebas sebagai gas nitrogen terlarut. Nitrogen sebagai salah satu unsur yang
penting dalam zat hidup ditemukan dalam bentuk senyawa organik baik pada
organisme maupun bahan organik dan terpartikulasi. Nitrat dapat menjadi faktor
pembatas bagi produksi fitoplankton bila konsentrasinya di bawah konsentrasi
minimum. Konsentrasi minimum terdapat pada lapisan permukaan dan maksimum pada
lapisan pertengahan (sub-surface) yaitu pada kedalaman beberapa ratus di
bawah permukaan laut Sverdrup dkk, (1942) diacu dalam Wati (2004). Senyawa
nitrogen terlarut merupakan hasil metabolisme organisme bahari dan hasil
pembusukan. Nitrogen terdapat pula dalam bentuk molekul-molekul protein dalam
organisme yang telah mati kemudian diuraikan menjadi bentukbentuk anorganik
oleh serangkaian organisme pengurai, terutama bakteri pembentuk nitrat. Nitrat
yang terbentuk akan dimanfaatkan oleh tumbuhan. Tumbuhan dan hewan yang mati
akan terurai menjadi asam amino dan sisa bahan organik. Selain melalui proses
tersebut diatas, nitrat yang terlarut di laut juga merupakan hasil suplai dari
daratan melalui sungai (Odum, 1971).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Plankton adalah
organisme yang melayang-layang diatas permukaan air laut. Plankton biasanya
terbawah oleh arus, karena mereka tidak dapat melawan arus. Plankton dibedakan
menjadi dua jenis yaitu, fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton merupakan
tumbuhan laut yang berperan sebagai produsen primer sedangkan zooplankton
adalah hewan lau mempunyai peran sebagai konsumen tingkat pertama. Plankton
memiliki peranan penting dalam ekosistem laut, karena mereka sangat penting
dalam rantai makanan.
3.2 Saran
Dari
blog di atas masih banyak sekali
kekurangan baik dari penggunaan kata-kata ataupun penulisannya, maka dari itu
penulis minta kepada Bapak dosen untuk lebih membimbing lagi dalam membuat
makalah yang sifatnya membangun.
DAFTAR PUSTAKA
sumber
Jurnal :
Simanjuntak,
Marojahan, Jurnal Perikanan, Hubungan Faktor
Lingkungan Kimia, Fisika Terhadap Distribusi Plankton Di Perairan Belitung
Timur (J.Fish.Sci.)Xl
(1):31-45issn:08536384.
Rohmani,
Miftahul yudi, 2013, Faktor pembatas.
Sumber
internet :

Bagus tulisannya cukup membantu
BalasHapusterimakasih
HapusGood👍
BalasHapusterimakasih
HapusMantap buk
BalasHapusterimakasih
HapusMenarik saat d baca🤗
BalasHapusGood mbak👍
BalasHapusterimakasih
Hapusntapz
BalasHapusterimakasih
HapusBagus
BalasHapusterimakasih
HapusSangat bermanfaat 😍
BalasHapusterimakasih farah
HapusBermanfaat
BalasHapusTerus menulis dan berbagi..
BalasHapusterimakasih
Hapusudah min.. :D
BalasHapusmakasih vira
HapusTerus berkarya dan berbagi manfaat :)
BalasHapusok siap
Hapusmakasih lina
BalasHapussangat menarik untuk dibaca
BalasHapusmakasih kk
HapusOhh gitu
BalasHapusiya
HapusApakah planton hanya terdapat d laut saja?
BalasHapusApakah planton tidak ada d sungai yg bermuara langsung kr laut?
-tidak di air tawar, dipayau, di kolam juga ada.
Hapus- ada, plankton dari sungai yang bermuara kelaut jenisnya Allogenikplankton. pada umumnya dia tidak hidup disungai yang bermuara akan tetapi dia hanyut terbawa oleh sungai atau arus
Terimakasih atas informasinya, sangat bermaanfaat sekali bagi khlayak ramai 👍
BalasHapusSaya ingin bertanya ni mengenai plankton. Apakah kesuburan perairan juga termasuk dalam faktor pembatas populasi plankton dalam suatu perairan???
Satu lagi , jika plankton adalah pakan awal bagi larva, apakah plankton dapat dibudidayakan secara intensif??
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusIya pengaruh, karna jika suatu perairan tersebut tidak tidak bagus maka bisa dikatan nutriennya tidak mencukupi untuk berkembang pertumbuhannya siplankton
BalasHapusTerkait dengan plankton, apakah bisa di budidayakan.?? Kemudian jika ditinjau, sebenarnya keberadaan plankton di ekosistem cukup dibutuhkan, nah untuk dikawasan perairan karimun yang sedikit coklat dan kotor airnya, apakah plankton juga terdapat disitu???
BalasHapusTerus, kondisi laut seperti apa plankton dapat dibudiyakan??
Menarik
BalasHapusMantap
BalasHapus👍👍👍👍
BalasHapus